Nestapa Warga Transmigran SP 5 Sebakis Nunukan, 13 Tahun Berjuang Untuk Hidup, Merasa Diasingkan Bagai Tahanan

oleh
oleh

NUNUKAN – Sebanyak 230 kepala keluarga, warga Transmigran di Satuan Pemukiman (SP) 5 Sebakis, Nunukan, Kalimantan Utara, merasa nasib mereka, ibarat pelaku kejahatan berat.

Pasalnya, kehadiran mereka sejak 2013 sebagai transmigran, hingga kini belum mendapatkan hak lahan usaha dan hak lahan plasma seperti yang dijanjikan. Mereka hanya mampu bertahan hidup, dan sudah sangat bersyukur bisa mendapat uang untuk makan keluarganya.

‘’Apa daya kami. Kami sudah bersurat kemana mana, sudah mengadu kesana kemari, tapi nasib kami masih sama. Kami seperti hidup di pengasingan, kami merasa dibuang,’’ ujar salah satu warga RT 27 Sebakis, Nunukan Barat, Haris, Senin (12/8/2024) kemarin.

Belasan tahun menjadi transmigran, Haris dan rekan-rekannya, hanya bisa berharap, dapat memiliki lahan garapan, untuk bisa mengubah nasib mereka.
Ironisnya, nasib mereka justru malah terlunta lunta. Jangankan berfikir makan enak, untuk bisa makan saja, mereka sudah sangat bersyukur.
‘’Kami sudah tidak bisa apa apa. Kadang kita berfikir sampai kapan harus begini. Kita sudah 13 tahun disini, selama itu pula, kami seakan berada di pengasingan dan terbuang,’’ keluh Haris.

3 Bulan listrik mati Masalah listrik kembali menghantui transmigran di SP 5 Sebakis setelah PLTD mati selama 3 bulan.
‘’Kami mau mengadu ke siapa. Inilah kehidupan di SP 5 Sebakis. Melihat anak anak kami yang membaca buku diterangi lampu teplok, membuat hati kami semakin sakit,’’ kata Haris.

Tanpa solusi lain, mereka terpaksa menggunakan lampu teplok improvisasi untuk penerangan dengan kaleng susu dan minyak tanah.
‘’Hidung anak anak kami hitam karena belajar dengan penerangan lampu teplok. Kami selalu menguatkan mereka, meski perasaan kami hancur lebur dengan kondisi kami di wilayah trans ini,’’ lanjut Haris.
Para transmigran merasa terpinggirkan dan menantikan solusi dari pihak terkait.

Jawaban Disnakertrans
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nunukan, Masniadi, mengakui Kelistrikan di SP 5 Nunukan bermasalah dan sudah diusulkan ke Provinsi sejak tahun 2023.
‘’Di SP 5 jaringannya masih rumah ke rumah, belum ada tiang listrik. Jadi itu yang akan kita bahas, termasuk mencoba menjalin komunikasi dengan PLN melalui provinsi. Kalau tidak diakomodir provinsi, kita akan kasih bantuan, tapi melihat dulu seperti apa mekanismenya nanti,’’kata dia

Lanjut dia, kunjungan dari Kementrian terjadwal pada September 2024 untuk membahas masalah lahan dan plasma. Saat ini, Disnakertrans Nunukan masih fokus pada permasalahan lahan LU dan Plasma, serta mengusahakan bantuan mesin cultivator untuk para transmigran bercocok tanam mandiri.
‘’Bulan September 2024, ada kunjungan dari Kementrian ke SP 5 Sebakis untuk masalah LU dan plasma. Semoga masalah tersebut terselesaikan,’’ harapnya. (Viq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.